Jateng Buka Pendaftaran Beasiswa Santri hingga Juli 2026
Program Beasiswa Santri Jateng 2026 masih dibuka hingga Juli. Pendaftar sudah mencapai 825 santri untuk studi dalam dan luar negeri.
Ilustrasi - Berbagai gaya orang membawa tas kerja. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S.
Harianjogja.com, JAKARTA - Kebiasaan menggendong tas di satu sisi bahu bisa berisiko bagi kesehatan jika dilakukan secara terus-menerus.
Konsultan Senior Ortopedi Bedah Bahu, Artroskopi & Kedokteran Olahraga di Rumah Sakit Dr L H Hiranandani, Powai, Mumbai, Dr Aditya Sai mengatakan bahwa kebiasaan menggendong tas di satu sisi bahu menimbulkan kerusakan secara bertahap yang akhirnya memengaruhi bahu dan tulang belakang, sebagaimana dilansir laporan Hindustan Times, Minggu.
Menurut dia, kebiasaan membawa tas di satu bahu bertentangan dengan desain alami tubuh manusia yang dibangun untuk seimbang.
“Ketika beban tidak terbagi rata, salah satu sisi sistem muskuloskeletal dipaksa bekerja lebih keras daripada sisi lainnya. Hal ini dapat menimbulkan nyeri kronis dan masalah pada sendi,” kata Dr Aditya.
“Otot-otot di sekitar tulang belikat, punggung atas, dan leher (seperti otot trapezius atas, rotator cuff, dan lainnya) bisa mengalami iritasi. Serangan mikrotrauma berulang akan menyebabkan kelelahan otot, peradangan, dan impingement bahu,” tambah dia.
Dr Aditya Sai menambahkan, efek dari kebiasaan itu bisa sama berbahayanya seperti cedera traumatis jika terjadi dalam jangka panjang.
Salah satu tanda bahaya dari kebiasaan menggendong tas di satu sisi bahu ini, lanjut Sai, berupa ketegangan otot yang memicu peradangan di area tersebut.
Artritis atau radang sendi sering kali dikaitkan dengan peradangan tersebut, tak hanya itu trauma mikro yang terus menumpuk juga bisa menyebabkan artritis bahu dini.
“Tekanan terus-menerus pada sendi akromioklavikular dan glenohumeral akan menimbulkan mikrotrauma kumulatif pada tulang rawan, sehingga meningkatkan risiko artritis bahu dini,” ujar dia.
Sai menjelasakan bahaya kebiasaan itu tidak hanya berhenti di bahu, namun juga tulang belakang pun bisa terdampak. Lantaran ketidakseimbangan otot bahu tidak hanya berhenti di area bahu. Biasanya, tulang belakang akan miring agar tubuh tetap tegak di satu sisi.
“Ketidakseimbangan ini dapat menyebabkan kekakuan leher, perubahan postur, dan sakit kepala akibat kompensasi dari ketegangan otot dan posisi tubuh yang tidak seimbang,” tutur dia.
Orang yang memiliki ketidakstabilan bahu sejak awal atau riwayat cedera sebelumnya, lanjut Sai, lebih rentan mengalami ketidakseimbangan bahu dan bisa merasakan nyeri yang lebih berat.
Sai menyarankan sejumlah hal yang bisa dilakukan membantu mengurangi risiko cedera salah satunya memilih tas dengan tali yang lebar dan empuk agar berat dapat terbagi rata di kedua bahu.
“Simpan barang-barang di dalam tas dekat dengan tubuh Anda, dan pastikan beratnya tidak lebih dari 10–15 persen dari berat badan. Jika harus menggunakan tas bertali satu, usahakan untuk sering mengganti sisi bahu dan lakukan latihan penguatan bahu serta postur tubuh secara rutin,” jelas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Program Beasiswa Santri Jateng 2026 masih dibuka hingga Juli. Pendaftar sudah mencapai 825 santri untuk studi dalam dan luar negeri.
Simak jadwal terbaru KRL Jogja-Solo Senin 18 Mei 2026 dari Stasiun Yogyakarta sampai Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.
Cek jadwal terbaru KRL Solo-Jogja Senin 18 Mei 2026 lengkap dari Palur sampai Yogyakarta. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Fabio Di Giannantonio menangi MotoGP Catalunya 2026 yang dua kali dihentikan akibat kecelakaan beruntun di Barcelona.
BMKG memprediksi hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah DIY hingga 20 Mei 2026 akibat pengaruh fenomena MJO.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit melantik Kalemdiklat Polri, lima kapolda baru, dan satu pejabat utama Mabes Polri di Jakarta.